Yakin aja bahwa Subject diatas sudah pasti berkesan angker, keramat, sial, atau apalah yang buruk-buruk… hehehehe… boleh dikata “fenomena 13” telah menjadi superstitious (istilah kerennya “tahayul” ) paling t.o.p dah dari jaman awal masehi ampe jaman edan ini (semakin edan aja…). “So, kurang kerjaan banget ngurusin angka 13!”. Mungkin sebagian dari elo beranggapan demikian… Tetapi tidakkah elo menyadari?! Bahwa sesungguhnya fenomena 13 telah menjadi sebuah kepercayaan yang (bahkan) dilegalisir secara komunal dan institusional.
Hah!!! faktanya di era modern ini banyak hal yang dengan sengaja meniadakan angka 13. Hal ini pun gw sadari sendiri saat ketika gw hendak mudik dengan sebuah pesawat dari sebuah maskapai yang cukup terkenal (terkenal karena sering kecelakaan). Ketika itu, sewajarnya seorang penumpang yang mencari nomor kursi pesawatnya, gw menghitung nomor kursi penumpang. Kebetulan nomor kursi gw waktu itu adalah 14C, maka gw pun mulai menghitung, “1, 2, 3, 4, 5, 6, 7,8, 9, 10 , 11 ,12, 14” dan “lho!! 13-nya mana???”
Contoh lain, lantai pada gedung - gedung perkantoran atau perhotelan hampir tidak ada yang menggunakan angka 13. yah.. kalo bukan jadi 12A langsung loncat ke angka 14, begitu juga ruangan-ruangan (kamar) di gedung itu. 13 memang sudah menjadi sebuah ikon kesialan yang mendunia… hehehe…
Lalu darimana awal mula superstitious ini? Diatas gw telah menekankan bahwa fenomena 13 sudah t.o.p dari jaman awal masehi. Ada alasannya.., awal masehi didasari oleh Kelahiran Kritus yang kemudian meninggalkan harta luar biasa berupa kisah – kisah Yesus dari Kelahiran sampai Penyalibannya. Dan salah satu cerita yang (paling) dipercayai sebagai asal muasal dari kesialan angka 13 adalah Perjamuan Terakhir Yesus dengan ke-12 muridnya. Pada saat itu datanglah Judas sebagai tamu ke-13 yang akhirnya mengkhianati Yesus.
Seperti Judas, maka 13 pun dikutuk sebagai angka pembawa sial… Karena lahir dari cerita masyarakat kristiani yang notabene adalah masyarakat eropa, maka seiring perkembangan budaya (terutama hebatnya perkembangan budaya eropa yang tak dapat dipungkiri), maka kisah itu pun dengan mudah diadaptasi oleh masyarakat non eropa dan non nasrani. Salah satunya oleh masyarakat kita yang terlalu latah…
Begidciuuu critanya bo’…
Sampai datang suatu peristiwa. Pesawat ulang-alik Apollo 13 hancur dengan sendirinya saat peluncuran perdana, maka sudah dapat ditebak kalau masyarakat pun semakin dibodohi dengan superstitious itu.. Dan yakin saja, N.A.S.A instansi besar dengan dana berjuta-juta dollar (bukan rupiah!!!) disertai teknologi canggih mutakhir milik Amrik itu tidak lagi akan menamai pesawat - pesawatnya dengan menyertakan angka 13. hehehe…
Dapat disimpulkan bahwa fenomena 13 juga berhubungan dengan kalender masehi yang dibuat oleh bangsa eropa dan didasari atas hitungan kelahiran Kristus. Berangkat dari sini mungkin sebagian dari anda pernah mendengar Friday 13th, entah dari novel, artikel, atau film horror yang diadaptasi dari cerita barat. Untuk ukuran masyarakat kita kayaknya nggak begitu musingin, tapi bagi sebagian orang di belahan barat sono sama hal yang satu ini sangat ekstrim. Friday 13th dipercaya merupakan hari yang penuh sial, sangat angker, mistis, end banyak hantu yang bergentayangan… hiihiihii…
Gak berhenti sampai situ, orang – orang yang begitu percaya sampai takut (phobia) sama hari jum’at tanggal 13 ini mendapat sebuah predikat, yakni Paraskavedekatriaphobia (saya yakin anda ribet mengucapkan apalagi mengingatnya), sedangkan phobia pada angka 13 dikenal sebagai Tridekaphobia. Ini bukti bahwa orang barat yang katanya paling modern, serta orang – orang yang latah dengan mereka adalah tidak ada bedanya dengan orang di jaman primitive yang begitu bodoh untuk percaya sama tahayul, mitos, atau hal berbau mistis lainnya. Hahaha…
Metafisik??? boleh dikata juga bahwa fenomena 13 adalah sebuah metafisik, tetapi tidak semua orang yang bergelut di bidang metafisik percaya sama fenomena 13. Salah satunya mentalist Deddy Corbuzier. Beliau memang terkenal sering menampilkan kesan mistis pada aksi - aksinya, tetapi untung saja dia tergolong salah satu manusia modern yang sangat tidak percaya pada kesialan angka 13.
Seandainya angka itu benar – benar memiliki pengaruh baik atau buruk pada nasib manusia. Maka bagi gw sendiri 13 merupakan nomor hoki. Sewaktu SD misalnya, karena menggunakan nomor peserta 13 gw meraih gelar juara II umum untuk lomba menggambar tingkat Kotamadya (Cie…), suatu prestasi hebat waktu itu dimana sebelumnya pada lomba – lomba tingkat kecamatan saja gw hanya mampu juara untuk kategori favorit. Lalu ketika beranjak SMP kelas II, karena mendapat nomor absen 13 pula, gw meraih dua kali peringkat 1. “Mana sialnya, 13 itu tidak buruk kok” kesan yang ada di benak gw saat itu. Hehehe… Tapi tidak berarti juga kalau berjodoh dengan angka 13 maka peruntungan datang, sewaktu di SMA gw pun mampu meraih peringkat 1 tanpa perlu berjumpa dengan si 13. hya..hya..hya..
So, back to the point… perlukahkah kita mengkhawatirkan masalah ini???… jawabannya PERLU… bukan tahayul-nya, tetapi pengaruh buruknya pada masyarakat. Jelas ini adalah suatu pembodohan. Fenomena 13 telah jauh masuk kedalam pola kehidupan kita bahkan telah mendapat sebuah pengakuan public (legalisasi) seperti yang telah di contohkan… Lebih penting lagi generasi muda bangsa yang terlalu latah dan lemah dari serangan west culture yang menyuntikkan doktrin bullshit ini kedalam media yang banyak digemari kalangan muda kita, seperti novel, musik, dan film… salah satunya film horror berjudul “bangsal 13“ sebuah karya dari sineas – sineas muda kita, yang juga salah satu film horror yang kurang meledak di bioskop alias gagal. Hehehe…
Padahal, sejatinya 13 hanyalah sebuah susunan angka biasa, yang di kelas matematika digolongkan sebagai bilangan yang hanya dapat dibagi dengan dirinya sendiri (bilangan prima). Dan Tridekaphobia tidak lebih dari sebuah pengaruh busuk budaya asing yang ingin membawa kita ikut jatuh dalam kebodohan masa lalu.
Source: The Innocent Rebel: Sisi Aneh Orang Jakarta